CERPEN/FIKSI

Di sini, fragmen dan penggalan kisah hidup--dari berbagai sumber,
sekedar agar kita tak lupa bersyukur
dan lebih mencintai hidup--
bahkan menemukan keindahannya, di balik duka, luka dan musibah sekalipun...

Bila FIKSI yang Anda cari, silakan klik DI SINI
Film-film yang layak diintip lebih jauh maknanya, bisa ditilik di sini

Saturday, September 8, 2012

Pantai Maaf

Aku melangkah ragu
antara rindu dan malu

namun pantaiku tak berpintu
cukuplah itu untuk membunuh raguku

"Ada apa, sayang?" 

Tak bolehkah aku rindu pulang?

"Ini, bukan rumahmu, sayang..."

Kau akan mengusirku?

(tidak ada jawaban....)

 Harusnya kau buat pintu....
jadi aku tahu bila aku tak boleh bertamu,
aku berbisik dengan hati seperih teriris sembilu

(tidak ada komentar)

Sebenarnya, aku datang bukan untuk mengganggu lautmu yang tenang
Aku hanya ingin menjumput pasir-pasir maaf
karena pasir-pasirmu yang paling fasih berhitung maaf
agar aku tak kehabisan cadangan peminta maaf
dan
agar aku tak kehabisan cadangan pemberi maaf

pasir-pasirmu.....paling ahli menghitung
hari-hari hidupku dan isi hatiku

(aku menunggu sampai lungkrah kakiku, terduduk.
sebelum hilang kesadaranku, terdengar bisikmu)

"masuklah.....namun jangan terbuai sayang....
waktuku untukmu tidak banyak"

Thursday, June 28, 2012

Sekolah

Ia masih kanak-kanak, hendak menempuh 9 tahun pendidikan dasarnya.
Ia dikaruniai adik-adik yang manis dan ia menyayangi mereka.
Ia dikaruniai wajah indah dengan suara lantang jernih bak malaikat saat mengidungkan pujian.

Ia masih kanak-kanak yang di kepalanya penuh suka cita dan permainan
Tapi demi mendapatkan kursi di awal pendidikan dasar 9 tahunnya
ia harus menjalani 3 kali tes di 3 sekolah yang berbeda, dan semuanya....gagal!*)

Satu set tes seleksi lagi, masih tersisa,
satu-satunya pilihan sekolah yang terjangkau  baginya**)
dan bila ia gagal, ia harus meninggalkan Kota Pendidikan ini
menanggung rindu bermain dan bercanda dengan adik-adiknya yang lucu dan disayanginya
untuk bersekolah di lain kota
dititipkan pada kerabat....



*) gagal bersaing dalam tes seleksi karena ia belum fasih membaca dan menulis saat "lulus dan diwisuda" Taman kanak-kanak
**) sekolah yang terjangkau=sekolah negeri yang bebas SPP, yang terjangkau finansial orangtuanya(belum berpenghasilan tetap, untuk makan saja masih susah), lokasi tidak terlalu jauh dari rumah agar bisa ditempuh dengan berjalan kaki bila hari-hari sulit tak memungkinkan ada uang transportasi baginya.






Monday, June 25, 2012

She Wants To Be A Victor, Still...

     Vow, si camar memekikkan warta
     Icy, si ombak menyediakan santapan seafood lezat
     Carol, si nyiur menyiapkan minuman segar
     Tad, si bayu memainkan musik mendayu
     Ian, si awan membentangkan layar slideshow kisah romansa
     Mac, si pasir menggulirkan wejangan kesetiaan
     Sunny, si surya memilih meredupkan mata dalam kernyit penuh tanya....

     Terbuai sungguh pantai sanctuary dalam sukacita
     Oh, siapakah yang hendak berpesta?

     Vic mulai menampakkan sosoknya di kejauhan
     Ingin benar kakinya segera menapak di kelembutan pasir pantai sanctuary kekasihnya
     Cerita yang tersembunyi di setiap butir pasir itu meletupkan penasarannya
     Tak sabar ia meraup bulir kebenaran yang sekelebat disibakkan oleh gadisnya
     Oh, gadis yang mana yang akan disuntingnya?
     Rasa di hatinya tak terkatakan
     Semburat cinta dan cemas melukisi raut mukanya

Desir bayu berubah kencang
Ombak nyaman berubah dahsyat
Tiba-tiba pantai sanctuary menjadi mencekam

Binar harapan disapu ragu
Lia melintas lari ketakutan
Oh, akankah musnah pantai sanctuary nya
Gemetar kakinya akibat menopang tubuh berpeluh dingin
Setelah mengetuk pintu-pintu yang salah
Penuh kesungguhan dibujuknya Hati, Jiwa, Cita, Ikhlas,Sabar, Asa dan Cinta
Oh, sudilah kiranya kalian bertahan, bisiknya
Tak ingin bermil mil kehidupan yang telah ditempuhnya, sia-sia

Dinding sanctuary meretas retak menahan tamparan badai samudera
Ombak merapuhkan segera bata penopang dengan resapan asin lautnya
Tercekat Lia akan kisah Cuty, soulmatenya--membuka pintu bagi kisah yang salah

Cerita pintu yang salah tak usai juga
Oh, akankah pesta terbatalkan?
Merapat Lia dan Cuty dalam peluk, menyatu...

              Tak jauh, sangaaattt tak jauh dari keduanya, hanya sebatas selapis nyawa
              Wanita bergaun putih terikat kaki tangannya, dibekap mulutnya, ditutup matanya
              parut luka lama ditumpuk luka baru, 
              telinganya pun berdarah ditusuk teror, cerca dan  fitnah beruntun
              namun ia bertekun melanjutkan sisa mil mil kehidupannya
              walau nadi nyaris teriris serat tambang demi sekelebat kebebasan fana
              sambil menantikan lonceng gereja tua, dan sebuah pesta pantai kemerdekaan...


to: al,  victor wannabe
             


Sunday, June 24, 2012

Pantai Hitam

Malam ini aku lelah sekali.......teramat lelah. Ah, bukan hanya malam ini, tapi MALAM-MALAM ini--
lebih dari 5 purnama...di mana, Sahabat terbaik adalah doa dan bantal! Ah!
Tapi sahabat dekatku menuntut dua telingaku untuk setia dibagikan cerita malam:


Aku pulang
ke pantai sanctuary
pada hari yang sudah terlalu gelap
pada malam yang bulan bintang memilih semadi di balik awan hitam tebal
hanya naluri ku
dan tapak kaki yang telah menyatu di pantai sanctuary ku
yang menuntunku terhindar dari jatuh

jujur, aku bukan pecinta kegelapan
bukan karena takut hantu atau mahluk jejadian
imanku yang sepersekian biji sesawi cukup meyakinkanku "aman" dari hal hal demikian
gelap selalu identik dengan himpitan beton yang bergerak merapat menekan tubuhku
hingga tak mampu bergerak, dan megap-megap meraup O2---itu saja
dan tanpa O2, otakku berhenti bekerja
dan daya pikir melemah....panik lah yang berkuasa
kepanikan yang makin menipiskan asupan udara
sehingga pilihan terakhir
jatuh tak berdaya, menyerah....

nyaris....menyerah....

sisa-sisa O2 kupaksakan memompa otak untuk menyisakan rasio nya
AKU ADA DI PANTAI SANCTUARY YANG BEBAS LEPAS.....
MAKA TAK MUNGKIN AKU SEDANG DIPEPATKAN BETON KEHIDUPAN...

Aku buka mata
gelap
kucoba menembus di balik lapisan gelap, lagi-lagi lapisan gelap
selapis lagi kusingkap, masih juga gelap.....

Setiap tarikan nafas meraup udara, kubuka terus lapisan di balik selapis gelap
satu persatu lapisan gelap tersingkap, untuk selapis gelap berikutnya
Aku tetap meraup O2 seraya menyingkap lapis demi lapis gelap

Gelap,
"namun kita di pantai lepas, bukan dipepat beton bertulang, Otak"
berulang-ulang kubisikkan kalimat itu pada otak, agar ia tetap bekerja...
Ia tak boleh menyerah!

Bagus, Al
Bagus.......sekarang, istirahatkan otakmu dulu. 
Kurasa, itulah kata terindah yang mampu aku ucapkan. Aku tak mampu sok pintar.
Lalu.....gelap total (aku jatuh tertidur- red.  . Karenanya, semoga padaku Al tidak tersinggung ;-)

Saturday, June 23, 2012

Pantai Sanctuary: Mengambang Di Lautnya


Aku terbangun oleh debur ombak pagi pantaiku
Terlompat kaget bak dikirimi nightmare

"Mataku terpicing terus"

Suara Al bak bisikan di tengah gemuruh ombak dan jeritan camar
Terkadang aku lelah di dekatnya
Tapi apa boleh buat dialah sahabat yang paling setia

"Maukah kau berjanji
menemaniku dalam suka dan sedih?
Saat harapan menipis bahkan nyaris tinggal segaris tipis?"

Pertanyaan itu lagi, itu lagi...
Tidakkah cukup bukti baginya bahkan sampai detik inipun kami masih di pantai yang sama?
Aku mengeluh lesu, namun dalam hati belaka

 "Aku lelah berlari
Maluku tlah menumpuk pula untuk selalu mengetuk pintu-pintu..."

"Mungkin engkau mengetuk pintu yang salah?
'Ketuklah pintu, maka pintu akan dibukakan bagimu,' bukankah begitu kata Dia?"
Kataku pada Al dengan sok bijak.


"Pertanyaanku belum kaujawab...."

Aku diam
memandang awan yang diarak bayu pantai kegalauan
Al tidak lagi mendesak
Ia sudah terbiasa dengan jawabanku yang tak kunjung datang

"Mari kita mengambang saja, dalam laut kehidupan, Al...
Sesekali menelan asin pahit airnya, sesisip atau berteguk-teguk --tak apalah...
Tergores tajam karang atau tersengat racun binatang samudera--tak mengapa..
Bukankah kita sudah terbiasa?
Be strong, sayang....
Laut sanctuary tak akan memangsa kita"



Dan kami lebur dalam pelukan
Menyatu.




 
 

Friday, May 25, 2012

Pantai Sanctuary -- Selalu Memanggil Kembali

Hari menjelang dini h`ri, aku masih terjaga, karena sahabatku bersikeras mengajakku begadang
Lagi-lagi untuk mendengarkan gemuruh pantai Sanctuary nya
Aku tak hendak berbantah, membiarkan hatinya jujur bicara:

"Pantaiku selalu memanggilku kembali....
Ah, aku berdusta
Sebenarnya
Akulah yang tak mampu beranjak jauh dari sini....dari Pantai ini...

Sesungguhnya, aku tidak membiarkan banyak yang tahu betapa aku mencintai pantai-pantai
Terlebih pantai-pantai imajinasi
Dan terutama, pantai Sanctuary...

Dalam sendiri dan bimbangku
dalam resah dan takutku
dalam letih dan menguap asaku

Kucoba membawa kakiku melangkahi mesin berjalan di mal-mal megah
lenggak lenggok manusia berbusana sylish dalam keramaian makin menceburkanku
dalam kerancuan makna dan sepi yang makin menggigit

Kurayu kakiku mendaki bukit gunung, dengan harapan kesejukan dan harapan terkuak
karena kabut akan tersibak saat tubuhku melangkah menerjangnya
lagi-lagi hanya kehampaan, karena jiwaku merasa semakin dekat ke angkasa dan semakin rela saja mengarungi langit tujuh lapis

Kupaksa dengan aneka persuasi aku menyib`k kerimbunan pepohonan hutan
bersahabat dengan keliaran alam
namun justru semakin sempurna aku memanjakan fantasi dalam sendiri
sibuk dengan bahasa harimau, kera, kumbang, pohon raksasa
dan semakin jauh dari peradaban

Kulupakan demokrasi dengan sang kaki dan kuputuskan menghampiri kumpulan gubuk dan rumah setengah jadi dalam kelap kelip malam yang lumayan dingin
bertemu dengan ibu yang mengeloni anaknya di lantai tanah beralas goni dekil bersisihan kandang sapi,
kandang sapi yang dihuni kotoran mengering dengan aroma tak pernah basi
tentu  itu bukan yang terparah,
karena semakin banyak pintu terkuak, semakin parah perutku berontak
tak ada kaget dan heran
Ah, kamu pasti mengira aku tak punya perasaan....
Jangan menghakimiku, sayang....
Tinggal kaulihat, betapa cepat aku akan muntah-muntah
atau tak mampu makan dan lelap selama beberapa pekan......
Perasaanku terlalu padat untuk menerjemahkan rasa
maka, untuk menyelamatkannya dari ledakan dan banjir lava
cukup kauterjemahkan bahasa biologisku saja....

Pada titik kulminasinya
ganti kakiku yang memamerkan otoritasnya
membawaku kembali ke Pantai
Pantai Sanctuary
Rebah di hangat pasirnya, memijat reda ketegangan
Takluk di belaian bayunya, membelai lepas kerinduan
Kenapa aku masih mengingkari juga
setiap anak akan kembali ke Ibunya
setiap anak akan pulang ke rumahnya
Aku, air, bulan, ikan.......
adalah pantai, dengan pasang naik dan surutnya menurut arahan rembulan"

Aku terdiam mendengar ceritanya. Mataku tinggal 5 watt, sudah saatnya kubujuk dia ke ranjang dan lelap....


Tuesday, March 6, 2012

MElebur Dosa


seri Pantai Sanctuary




Gamang aku menapak kaki di pantai sanctuary
di suatu pagi
seakan aku adalah orang asing
di rumah yang aku bangun sendiri

Camar mengaduh
ombak mengeluh
angin pun misuh
semua semua seperti menuduh
duuuh...

Tanpa kalian katakan semua itu
hatiku sudah luruh 
jatuh

Ingin aku menantang gelombang
menyambutnya pasrah didesak nekad
Namun bahkan ombak kecilnyapun enggan mendekat

Bawa saja aku, gelombang
datanglah pasang
jemputlah aku tak usah bimbang
bila dengan caramu itu segala dosa kan tuntas terhapuskan

Namun mereka tak mendengar
ia tak mendengar
bahkan untuk sebuah hukuman pun
padaku enggan datang
apalagi kesukaan?

Aku tergugu tak mampu berucap sepatah pun kata
karena aku tak ingin sepatahpun kata darimu yang terlewat

sayang...
tetap aku tak mendengar apa-apa.....

benarkah aku kini hanyalah musafir
di pantai rekaanku sendiri?
TERAPI DONGENG dan Kisah:
* pembangun karakter positif kanak-kakak
* terapi emosi dan karakter positif
* terapi komunikasi efektif bagi profesional/pekerja
* terapi "relationship" bagi pasangan/dewasa
* media hiburan, penyemarak acara camp/gathering/party/dll, baik bagi kanak-kanak maupun "special party " insan dewasa.

Klik di sini