CERPEN/FIKSI

Di sini, fragmen dan penggalan kisah hidup--dari berbagai sumber,
sekedar agar kita tak lupa bersyukur
dan lebih mencintai hidup--
bahkan menemukan keindahannya, di balik duka, luka dan musibah sekalipun...

Bila FIKSI yang Anda cari, silakan klik DI SINI

Tuesday, March 6, 2012

MElebur Dosa


seri Pantai Sanctuary




Gamang aku menapak kaki di pantai sanctuary
di suatu pagi
seakan aku adalah orang asing
di rumah yang aku bangun sendiri

Camar mengaduh
ombak mengeluh
angin pun misuh
semua semua seperti menuduh
duuuh...

Tanpa kalian katakan semua itu
hatiku sudah luruh 
jatuh

Ingin aku menantang gelombang
menyambutnya pasrah didesak nekad
Namun bahkan ombak kecilnyapun enggan mendekat

Bawa saja aku, gelombang
datanglah pasang
jemputlah aku tak usah bimbang
bila dengan caramu itu segala dosa kan tuntas terhapuskan

Namun mereka tak mendengar
ia tak mendengar
bahkan untuk sebuah hukuman pun
padaku enggan datang
apalagi kesukaan?

Aku tergugu tak mampu berucap sepatah pun kata
karena aku tak ingin sepatahpun kata darimu yang terlewat

sayang...
tetap aku tak mendengar apa-apa.....

benarkah aku kini hanyalah musafir
di pantai rekaanku sendiri?

Thursday, March 1, 2012

Sepi Merindu


Pantai Sanctuary
Sepi merindu

Pagi datang lagi
Pantai sanctuary menerima kunjunganku lagi
Namun kembali....kuhanya berteman sepi...

Terkadang aku ingin menanyai pantai sanctuaryku
apakah mereka kini sentimen padaku
ia kerap membisu dan beku

kutatap jejak kakiku di pasir pantaiku
utuh, tak segera tersapu ombak laut
ah, ombak pun enggan menyapaku
aku merintih pilu
serasa hilang kehidupan pantaiku

"apakah kausebut itu pantai, bila tak ada ombak menghampiri daratan untuk hapus segala jejak"
ingin benakku berteriak tak terima
namun suaraku tersekat di tenggorokan
oleh sebuah serak yang akan segera tumpah dan basah
bila kupaksa suaraku keluar dalam jeritan

maka aku memilih diam

memandang ombak yang diam
menatap awan yang berhenti berarak
mungkin, dengannya
emosiku akan teredam
mengikuti segala diam
yang menguasai aura di sana

Tiba-tiba ujung sebuah jari disapa sejuk
sekecup basah sang ombak menyapaku
ragu, tapi mau
seketika air mataku runtuh...

Monday, February 27, 2012

SAKIT (part 2)




Ini sebuah kisah
Tiga wanita tak kuasa menolak hidangan yang disuguhkan tuan rumah
Menu pedas pahit mesti dicecap

Wanita pertama
Belum habis seluruh isi piringnya,
Perutnya memberontak
Muntah berak tak henti-hentinya
Berakhir dengan selang infus di ranjang

Wanita kedua
Menghabiskan bagiannya karena diliput segan
Sepulang dari jamuan
Tak henti-hentinya ke belakang
Namun pucuk daun jambu cukuplah untuk meringankan penderitaannya
Tak berkepanjangan

Wanita ketiga
Sebenarnya tak mampu dia melahap habis makanannya
Perutnya mual tiada tara
Namun, dia tak kuasa menolak
Diselesaikannya jamuan
Sesampai di rumah, mual tak berkesudahan
Segala cara ditempuh, mualnya bertahan…
Namun, susah pula untuk dimuntahkan

Makananan yang sama
Penyebab sakit yang sama…..
Rasa sakit yang diakibatkan, dan kesembuhan mereka…..BERBEDA

Aaahh….
Anda pasti sibuk menganalisa, si A begini, si B dan C begitu?
Silakan saja…
Kita dianugerahi otak memang untuk diasah…
Toh, intinya hanya satu…ya karena mereka bertiga BERBEDA…

Tuesday, February 21, 2012

SAKIT (part 1)



Sakit yang sama
Menimpa orang yang berbeda
Akankah SAMA proses sembuhnya?
Bahkan bila diberi obat yang SAMA,
Akankah tubuhnya bereaksi SAMA?

Tentu tidak…

Karena KITA—berbeda
Karena KITA—unik…
Itulah hebatnya Tuhan…

Lalu, bagaimana kita bisa berlagak LEBIH dari Tuhan?
Saat kita menggunakan dalil, teori, kesimpulan, analisa yang SAMA
untuk mahkluk benama MANUSIA—yang serba unik,
bukan cuma UNIK fisiknya,
namun juga
hatinya,
jiwanya,
perasaannya,
perjalanan hidupnya…detik demi detik…

Maka…..
Pandanglah setiap manusia SEBAGAI diri DIA
Dan RASAkan sakitnya, bak rasa dan tubuh-DIA

Thursday, February 16, 2012

Luka

ada luka tergores ringan, sangat samar jejaknya --
beberapa menit kemudian terabaikan sakitnya (asal tidak ditaburi garam...;-) )

ada luka tergores silet, tak terlalu dalam
ada darah sesaat, dan perih menyengat
setelah sedikit perawatan anti infeksi....mudah pula berkata "I'm fine" (asal nggak dikucurin jeruk nipis...iihh!)

ada luka karena pisau, dalam, dan aliran darah tak berhenti juga
terkadang, penanganan medis tak bisa dihindari
sedikit agak lama sembuhnya, bahkan untuk menggerakkan jari saja susah
namun....jauh benar dari nyawa,
maka....yakin saja berkata "no worries"

ada luka pisau...operasi!
rapi, dan terjahit kembali....
menjadikan kondisi pasien lebih baik, namun ada pula yang menjadi "jembatan" ke surgawi...
butuh waktu sembuh beraneka, seberaneka rupa sakit yang mesti berujung di ruang operasi
ditambah lagi--ada yang punya alergi, atau hipertensi, atau  kadar gula darah tinggi--jadilah komplikasi!
Waktu untuk sembuh? Bervariasi..... 
seminggu, sebulan setahun....bahkan ada yang mesti kembali ke meja surgery!

Namanya sama--LUKA
namun, dapatkah disamaratakan?

Demikian pula luka hati, luka batin, luka jiwa.
Namanya sama--LUKA
namun tak seorangpun berhak menjadi DOKTER (yang merasa)
PALING PINTAR,
PALING TAHU,
PALING BENAR
untuk menilai LUKA dan waktu sembuh setiap jiwa...

memangnya Anda TUHAN?!?

Thursday, December 22, 2011

REUNI-KISAH SEORANG GURU PURNA BAKTI

"Aku akan datang ke reuni itu, Nak
sama sepertimu, aku rindu bertemu murid murid ku di masa lalu
Apa? Akan ada suguhan atraksi megah?
Wah, bagus pasti ya, kan kalian orang-orang muda hebat..
Tapi bukan kemegahan yang aku cari, anakku,
melainkan silahturahmi
bukankah itu makna reuni?"

Demikian sang ibu guru purna bakti  memaknai undangan sebuah reuni akbar

Busananya sederhana sekali
blouse batik yang jauh dari ekslusif
tas monte plastik hasil karya menantu terkasih
terjinjing tanpa takut dicuri
berisi  lima puluh ribuan 3 lembar tersembunyi dalam "dompet" plastik
itu nasib perutnya selama satu bulan, sisa pensiun yang telah terpotong tagihan bulanan
listrik, air, gas, kewajiban bersosialisasi warga dalam PKK
tak lebih, tak kurang
sedikit gelisah hatinya, kalau-kalau lembar-lembar nasibnya satu bulan ke depan, mesti terpakai untuk transportasi,
mungkin menuju lokasi reuni dengan jalan kaki bisa jadi alternatif...
untung seorang sesama guru purna bakti, mengusahakan transportasi yang lebih irit


Wajah sang ibu guru yang masih terlihat muda walau dimakan usia
namun ikhlas melepas iming-iming kekayaan sejak usia belianya
bebas dari make up gemerlap
sangat kontras dengan megahnya aksi panggung reuni dan seksi cantik pengisi aneka atraksi....

Tak ada sambutan jabat tangan "pemilik rumah" sekolah tempatnya mengabdi hingga purna bakti
Tak tersuguh segelas air putih pun atau setangkup roti yang dihantar dengan keramahan sebuah "a big family"
kehangatan yang dirindukannya telah digantikan lembar kupon konsumsi
mungkin reuni ini bermisi "life long education", sampai purna bakti, guru mesti memberi teladan "mandiri"
tak peduli fisik digerogoti sakit dan kaki tak lagi lincah menapaki tangga ke lantai dua demi kata "konsumsi"

Ah....mengapa orang-orang lupa ya...
ketika memilih menjadi guru, demi keluarga, kami telah siap untuk terbiasa menahan lapar ....

Karena kondisi fisik tak lagi prima
tak lama ibu guru itu bisa bertahan di lokasi acara
beliaupun pulang
lelah, haus dan tetap ikhlas....
pulang sambil menggenggam kupon konsumsi dari panitia reuni yang masih utuh di tangan...

masih pula mampu tersenyum lega
3 lembar limapuluhan ribu di dompet plastik sanggup di"jaga"nya,
demi kehidupan satu bulan ke depan--tak lebih (insyaallah tak kurang)....










Tuesday, December 20, 2011

Dari Sepasang Papa-Mama Yang gelisah


ANAKKU SAYANG,

Sedih dan lega kami membaca suratmu
Sedih……….Kenapa rumah kita tak lagi indah untukmu?
Kenapa kami tampak tak menyenangkan bagimu? Padahal cinta kami padamu tak pernah berkurang……….
Lega……..Kau mau menuliskan rasa hatimu pada kami
Tapi kami lebih bersuka lagi, bila kau sudi berbincang langsung dengan kami.
Apa yang salah? Tidak ada yang salah.
Apa yang berubah? Jelas ada……….engkau bertumbuh menjadi remaja.
Tahukah kau, anakku, tak ada orang tua yang tidak cemas ketika mendapati anaknya beranjak remaja.
Bukan, bukan kami tidak senang.
Kami senang karena itu pertanda kau bertumbuh dewasa.
Tapi, bertumbuh dewasa adalah sebuah proses panjang yang penuh dengan gejolak dan godaan.
Kami cemas, bila kau tak mampu mengarahkan hidupmu ke jalan yang benar
Kami kuatir bila kau terbawa arus yang salah.
Bukan, bukan kami tak percaya padamu.
Tapi kami tak ingin kamu sakit dan terluka, apalagi terlunta-lunta,
Karena dunia kita semakin kejam………..
Andai engkau lebih percaya dan terbuka pada kami
Andai kita lebih meluangkan waktu untuk saling bicara,
Mungkin kita akan bisa mengatasinya bersama-sama
Maafkan kami bila tak memahami keinginanmu, membuatmu kecewa dan tersudut.
Tapi masih ada waktu bukan, untuk memperbaiki semuanya?
Kami menunggumu, untuk duduk di sofa empuk kita, sambil mencicipi kue buatan mama, menikmati musik lembut dari stereo set kita yang mewah, kita berbagi cerita dan cita-citamu…………
Mama dan Papa
TERAPI DONGENG dan Kisah:
* pembangun karakter positif kanak-kakak
* terapi emosi dan karakter positif
* terapi komunikasi efektif bagi profesional/pekerja
* terapi "relationship" bagi pasangan/dewasa
* media hiburan, penyemarak acara camp/gathering/party/dll, baik bagi kanak-kanak maupun "special party " insan dewasa.

Klik di sini